Tuesday, October 31, 2006

PEMIMPIN YANG MEMBUMI



HUMASWALISONGO. Baru saja IAIN melantik para dekan di 4 fakultas secara serentak. Dekan Fakultas Dakwah periode 2006-2010 adalah Drs. H. Moh. Zein Yusuf, M.M., Fakultas Syari’ah Drs. H. Muhyiddin, Fakultas Tarbiyah Prof. Dr. H. Ibnu Hajdar, M.Ed. dan Fakultas Ushuluddin Dr. H. Abdul Muhaya, M.A. Pelantikan dilakukan oleh Rektor IAIN Walisongo Prof. Dr. H. Abdul Djamil, M.A. Dalam pengantarnya Profesor Filsafat Islam ini menengarai bahwa tanggungjawab IAIN 4 tahun kedepan lebih kompleks dan penuh persaingan dengan lembaga pendidikan lain. Kita berada dalam kawasan yang mana dilingkupi oleh STAIN yang notabene menawarkan program pendidikan yang sama. Untuk itu kedepan IAIN harus memiliki cirikhas agar mempunyai nilai tawar dan sebagai pilihan utama bukan alternatif. Disinilah amanat yang harus diemban pertama kali oleh para pemimpin baru di fakultas itu. Menurutnya kita harus mengedepankan prinsip mengutamakan kepentingan Negara di banding dengan kepentingan pribadi atau golongan apalagi keluarga. Sehingga dengan logika ikrar pelantikan ini para pejabat di instansi pemerintah terutama para dekan mempunyai tanggungjawab ganda. Pertama, ia harus rela waktunya tersita untuk melayani masyarakat, tidak seperti sebelum menjadi pejabat. Kedua, harus memahami perkembangan dan tantangan yang melingkupinya. Ketiga, peran dia di lingkungan internal dan eksternal.
Pelantikan tidak hanya kepada dekan di lingkungan IAIN Walisongo saja melainkan juga terjadi perubahan di eselon III dan IV, yakni: Kepala Bagian Kepegawaian yang sebelumnya Drs. H. Khusaeri M.Ag. diganti oleh Drs. Suharto (sebelumnya Kabag TU Fakultas Dakwah). Sementara Kabag TU Fakultas Dakwah adalah Drs. H. Shihabuddin, M.M. (sebelumnya Kasubbag Umum pada Bagian TU di Fakultas Dakwah). Sedangkan Kabag Perlengkapan dan Rumah Tangga yang sebelumnya Drs. H. Thohir Suaedi karena pensiun diisi oleh Drs. Djumal (sebelumnya Kabag Keuangan). Dan Kabag Keuangan sekarang diisi oleh Drs. H. Khusaeri, M.Ag.

Di eselon IV ada tiga orang yang mutasi dari staf ke Kasubbag, yakni Drs. Munthoha, M.M. sebelumnya staf di Kepegawaian menjadi Kasubbag Mutasi di Kepegawaian. Hj. Khotimah, S.Ag. sebelumnya staf keuangan sekarang menjadi Kasubag Kepegawaian dan Keuangan Fakultas Syari’ah. Terakhir Hj. Farida Barik, S.Ag. yang sebelumnya staf pada keuangan menjadi Kasubag Pelaksana Anggaran. Sedangkan satu orang yang pindah dari Kasubag Pelaksana Anggaran adalah Ngasikin, S.Ag. menjadi Kasubag Umum di Fakultas Dakwah.Selamat melaksanakan tugas, semoga mendapat bimbingan dan kekuatan lahir batin. Amin.

PELANTIKAN DEKAN

HUMASWALISONGO. Hari ini seluruh dekan baru yang kemarin di bulan puasa terpilih resmi sudah menjadi dekan di fakultas masing-masing. Karena Rektor secara resmi melantik mereka, pukul 10.00 WIB di Auditorium I Kampus I. Pelantikan dilakukan secara serempak kepada Drs. H. Zein Yusuf, M.M. (Dekan Fakultas Dakwah periode 2006-2010), Drs. H. Muhyiddin (Fakultas Syari'ah), Prof. Dr. H. Ibnu Hadjar, M.Ed. (Fakultas Tarbiyah) dan Dr. H. Muhaya, M.A. (Fakultas Ushuluddin). Dalam pelantikan tersebut juga secara simbolik penyerahan jabatan dari dekan lama ke dekan baru. Selanjutnya secara resmi dekan baru akan menempati ruang barunya sejak dilantik. Kelengkapan kabinet akan diikuti kemudian, dari pembantu dekan 1,2 dan 3 serta ketua jurusan dan prodi.
Humas IAIN Walisongo mengucapkan selamat kepada para dekan baru semoga diberi umur panjang dan dapat melaksanakan tugas dengan baik dan amanah. Amin.

Wednesday, October 18, 2006

RALAT BERITA

HUMASWALISONGO. Ralat berita tanggal 16 Oktober, tertulis pemilihan dekan di mulai tanggal 17 Oktober, dimulai fakultas syari'ah, perbaikan menjadi tanggal 18 Oktober 2006 serempak di 4 fakultas. Demikian ralat yang dapat kami sampaikan. Atas perhatiannya kami ucapakan terima kasih.

Monday, October 16, 2006

GUNAKAN HATI YANG BERSIH

Bulan puasa kali ini memang penuh berkah, terutama bagi keluarga besar IAIN Walisongo. Mengapa? Karena mulai tanggal 17 Oktober dilakukan pemilihan Dekan di 4 fakultas. Dimulai fakultas ushuluddin, tarbiyah dan dakwah yang melakukan pemilihan dekan baru untuk periode 2006-2010. Untuk fakultas ushuluddin informasi yang beredar terdapat 1 calon, yakni Dr. H. Muhaya, M.A. Sedangkan fakultas tarbiyah 2 calon, yakni Prof. Ibnu Hajar dan Prof. Erfan Soebahar. Sementara fakultas dakwah dengan 1 calon, yakni Drs. H. Zein Yusuf, M.M. Kemudian tanggal 18 Oktober fakultas syari'ah dengan calon Drs. H. Muhyiddin dan Dr. H. Muslih Shobir, M.A. Semoga para anggota senat dapat memilih para dekannya masing-masing dengan hati yang jernih dan bersih. Sehingga tentunya mendapatkan pimpinan yang diidamkan oleh semua pihak, dan dapat membela kepentingan masyarakat dan keluarga besar IAIN Walisongo.

Friday, October 13, 2006

KEMBALILAH KEPADA AL-QUR'AN!


Selasa (10/10) IAIN Walisongo menyelenggarakan peringatan Nuzul al-Qur'an 1427 H di Auditorium I dengan pembicara Prof. Dr. H.M. Muchojjar HS, M.A. Acara ini terselenggara kerjasama dengan BAI (Badan Amalan Islam) IAIN Walisongo. "Marilah kita senantiasa merujuk al-Qur'an sebagai pedoman hidup kita sehari-hari, sehingga tidak tersesat", kata Drs. H.M. Nafis, M.A. saat memberi sambutan atas nama pimpinan IAIN. Ucapan terima kasih disampaikan kepada segenap keluarga besar IAIN yang hadir dalam peringatan Nuzul al-Qur'an.
Selanjutnya dalam memaparkan hikmah Nuzul al-Qur'an Muchojjar menyampaikan arti penting al-Qur'an yang tidak hanya sebagai bacaan mulia saja, melainkan ada beberapa I'tibar dan perumpamaan yang berhubungan baik dengan ilmu pengetahuan dan teknologi maupun hal-hal yang bersifat kemanusiaan dan kealaman. Profesor ilmu tafsir ini mencontohkan beberapa kisah kehidupan yang diterapkan dalam kehidupan nyata. Adalah Lukman Hakim, seorang negro (baca: rambut ikal, kulit hitam legam, gigi besar, hidung lebar) tukang kayu (najjar) karena ahli hikmah ia diawetkan dalam al-Qur'an. Pernah suatu ketika ia disuruh oleh seorang Raja untuk menyembelih seekor domba, kemudian disuruh mengambil daging yang paling baik dan sekaligus paling jelek. Ia mengambil dua potong daging, yakni lidah dan hati. Lalu muncul pertanyaan mengapa engkau ambil daging yang paling baik dan jelek sama, yakni lidah dan hati? Lukman Hakim menjawab bahwa lidah dan hati adalah dua hal yang tak bias dipisahkan. Kalau hati bersih maka lidah akan berkata bersih. Demikian pula sebaliknya, kalau hatinya jelek maka keluaran dari lidahpun jelek.
Sebenarnya Lukman Hakim mengambil daging tersebut sebagai perumpamaan saja. Artinya ia melihat jauh kedepan tentang arti sebuah kehidupan. Yang menjadi sasaran bagi al-Qur'an adalah hati, karena itu wahyu pertama yang turun langsung masuk ke dalam hati.
Lalu bagaimana agar hati kita bersih? Dosen yang lahir di Tangerang ini menjelaskan bahwa persyaratan utama agar hati kita bersih adalah dalam memilih, memasukan makanan harus baik dan halal. Baik prosesnya, perolehannya maupun cara mendapatkannya. Untuk itu kita tidak boleh melakukan korupsi karena hasil dari korupsi tersebut akan mengalir dalam darah kita, sehingga kita memakan barang yang tidak halal. Ini salah satu penyebab kotornya hati. Idza akala al-abdu halalan arba'ina yauman nawwara qalbahhu, jika seorang hamba dalam waktu 40 hari makan barang yang halal maka hatinya akan bercahaya. Dalam kesempatan reformasi dekan dan rektor maka ketika memilih pemimpin harus dengan hati yang bersih, imbuhnya sambil disambut dengan tepuk tangan audiens. Jadi jangan sampai kita terjebak dengan inna al-abda idza adznaba waqa'a fi qalbihi nuqthatan sawda', sesungguhnya jika seorang hamba berbuat dosa maka dalam hatinya terdapat titik hitam. Untuk itu jangan dikotori hati kita, tegasnya.Terakhir ia menyampaikan agar kita selalu kembali kepada al-Qur'an dan al-Sunnah. Al-Qur'an sebagai bacaan mulia harus menjadi teman dan sahabat dimanapun kita berada. Kebijakan, keputusan dan tindakan harus didasarkan kepada al-Qur'an dan al-Sunnah.